Buah Cinta, Antara Perhiasan Dan Ujian Keimanan

Foto Ketika Sang Buah Hati Berusia 1 Tahun, pada 07 Juli 2017

Buah Cinta,... Antara Perhiasan Dan Ujian Keimanan
Sering kita jumpai atau mendengar para orang tua menyebut sebuat kalimat sebagai gambaran rasa sayang terhadap anaknya, misalnya kalimat buah hati, jantung hati, belahan hati, permata bunda, bahkan ada yang bilang buah cinta. Mengapa disebut buah hati atau kata lainnya seperti tersebut diatas, bagi orang tua anak adalah segalanya. Demikian juga Rasulullah SAW bersabda:

الولد ثمرة القلب  (رواه ابو يعلى)
Artinya:  “anak itu adalah buah hati”  (HR. Abu Ya’la) 

Hadits ini singkat namun mengandung arti yang sangat dalam. Bahwa kehadiran anak adalah salah satu hal yang ditunggu-tunggu oleh orang tua. Sebagai buah cinta ia mampu menjadikan rumah tangga harmonis senantiasa bahagia serta menjadi perhiasan dalam rumah tangga. Dengan kata lain sang anak merupakan salah satu unsur yang sangat kuat untuk memperkokoh jalinan kasih dan sayang dalam bahtera rumah tangga. Bahkan dua rumah tangga sekaligus, yaitu orang tua dan mertua.

Kalau ada barang atau perhiasan yang paling berharga didunia ini, yaitu anak. Dia mengalahkan segalanya baik suka maupun duka anaklah yang terutama bagi orang tua. Sebagai perhiasan dunia, terdapat dalam firman Allah SWT, dalam Al-Qur’an (QS. Al-Kahfi; 46): 

Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”.

Sesungguhnya anak dilahirkan dalam keadaan fitroh, suci laksana kertas putih. Sebagai orang tua tentunya berkeinginan agar anak kita menjadi anak yang sholih dan sholihat. Hal ini sebagaimana tergambar dalam sabda Rasulullah:
Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani, dan Majusi”  (HR. Bukhari) 
Tentang anak, Al Qur'an mengingatkan, selain sebagai buah cinta, buah hati atau perhiasan, disisi lain kehadiran anak adalah ujian. Dengan kehadiran anak itu Allah SWT mencoba dan menguji manusia dengan tanggung jawab untuk merawat, mengasuh dan mendidiknya sebagai generasi penerus agar mereka kelak menajdi insan yang taqwa kepad Allah, sehat jasmani dan rohani, cerdas dan terampil serta tanggap terhadap tantangan zamannya. Apakah orang tua mampu menunaikan tanggungjawab itu? Dalam hal ini Allah berfirman dalam Al-Qur`an (QS. At-Taghabun; 15)
Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar

Harapan orang tua terhadap anaknya tercermin dalam do`a dan sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur`an (QS. Ali Imran: 35
Artinya: “Di sanalah Zakariya berdo`a kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah Aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa".

Dalam surah lainnya, Al-Qur`an menggambarkan harapan orang tua terhadap masa depan anaknya sebagaimana digambarkan dalam do`a yang dilakukan oleh istri Imran dalam Al-Qur`an (QS. Ali-Imran: 35)
Artinya: “(ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”
Terkait kehadiran anak adalah ujian, sudah sepantasany kita sebagai orang muslim selalu senantiasa belajar serta memberi pelajaran kepada anaka-naka kita agar kelak menjadi buah cinta seperti apa yang kita harapkan bersama keluarga tercinta. Sehingga terciptalah keluarga yang sakinah mawadah warahmah didunia hingga sampai akhirat.

Sebagai orang tua wajib untuk mencetak generasi unggul sebagaimana diamanatkan oleh Al-Qur`an pada ayat di atas, akan tetapi lebih dari itu orang tua punya tanggungjawab untuk menjaga anak-anak mereka baik di kehidupan dunia bahkan sampai kehidupan akhirat, Allah mengamanatkan penjagaannya ini dalam Al-Qur`an (QS. At-Tahrim: 6)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Sekali lagi, sebagai orang tua kita wajib mencetak genrasi yang bernilai emas permata. Namun semua itu tidak luput dari izin Allah SWT. 

Demikian secuplik artikel berkaitan dengan anak yang kiuta sayangi, yang kita cintai. Semoga Allah selalu meridloi setiap langkah kita damalm menuju jalan kebaikan, amin

Dalil dikutip dari berbagai sumber.

6 komentar:

Andhika Nur Afian mengatakan...

Semoga anak2 kita dan semua menjadi anak yg sholeh dan sholihah...

Adhi Sutowo mengatakan...

Amin...mas Andhika...saling mendoakan semoga apa yang kita inginkan terhadap anak2 kita selalu diijabah daj diridloi Allah SWT.

jasmito ito mengatakan...

Setiap anak memiliki keunikan sendiri2. Sebagai ortu harus bsa memahami karakter masing2 anak

Adhi Sutowo mengatakan...

Nhah...betul itu mas, apalgi g mesti sama karakter anak dan orang tua sendiri. Maka harus pandai2nya kita sebagai orang tua untk mengenal karakter anak kita

Blok 51 mengatakan...

anak adalah buah hati. harus dijaga sebaik mungkin dengan penuh cinta,.

Adhi Sutowo mengatakan...

Semoga anak kita kelak menjadi anak yg spt kita cita2kan y mas,amiin...

Posting Komentar